| | | |
| Written by Kiky/Papos |
| Thursday, 16 December 2010 00:00 |
| ASMAT [PAPOS]- Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. populasi suku asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku Simai. Sekarang biasanya di satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang lebih. Setiap kampung punya satu rumah bujang (jeu) dan banyak rumah keluarga. Rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Suku asmat meiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh.selain budaya, penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku Asmat umumnya. Ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku Asmat. “Ada patung yang memang mempunyai kekuatan gaib sendiri, bagi kita yang melihatnya dengan mata telanjang memang tidak kelihatan. Tetapi orang Asmat bisa merasakan adanya roh gaib didalam patung.yang lebih unik lagi, masing-masing distrik yang ada di kabupaten ini mempunyai cara mengukir yang berbeda. Seperti di sawaerma yang hanya bisa membuat panel, distrik Akat yang hanya bisa membuat patung dan lain sebagainya,”ungkap Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Asmat Simon Junumpits, S.Pd. Sementara itu pola hidup yang dipakai oleh orang Asmat adalah pola meramu. Dimana masyarakat mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti, ular, kasuari, babi hutan dll. mereka juga selalu meramuh atau menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. Kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah. Beruntung nelayan di Asmat mempunyai keleluarsaan untuk mencari ikan tanpa takut tersaingi oleh pendatang yang mempunya alat yang modern. Bupati Asmat Yuvensius A Biakai, BA sendiri memberikan peraturan daerah dimana yang berhak mencari ikan di laut hanyalah orang Asmat saja. Sedangkan bagi pendatang, dipersilahkan untuk perdagang yang lainnya.[kiky] |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar