Jumat, 24 Agustus 2012

BABEL, BABILONIA

Babel' adalah nama dari salah satu kota penting yang didirikan oleh Nimrod di tanah Sinar (Sumer), Babilonia kuno. Babel disebut bersama Erekh dari Akad (Kejadian 10.10). Menurut tradisi Babilonia kota itu didirikan oleh dewa Marduk, dan dihancurkan oleh Sargon ± 2350 sM sewaktu ia mengambil tanah dari situ untuk mendirikan ibukotanya yang baru, Agade.

Sejarah pembangunan kota itu dengan menaranya yang tinggi, diceritakan dalam Kejadian 11:1-11. Di sana nama Babel (Ibrani בָּבֶל - BABEL) diterangkan secara etimologi populer, berdasarkan atas akar kata yang mirip bahasa Ibrani בָּלַל - BALAL, sebagai 'kekacauan' atau 'pencampuran'. Dengan demikian Babel menjadi sinonirn dengan kekacauan yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan bahasa yang merupakan bagian hukuman Tuhan atas kecongkakan manusia yang nyata pada pembangunan itu.

Sampai sekarang belum ada bukti arkeologi yang membenarkan adanya kota di Babel sebelum dinasti pertama (± 1800 sM). Tapi tradisi Babilonia dan suatu naskah dari Sharkalisharri, menceritakan bahwa raja dari Agade kr 2250 sM membangun kembali menara kuil (ziggurat) di Babel. Informasi itu menyarankan bahwa sebelumnya telah ada kota suci di tempat tsb. Tindakan Sargon mungkin menguatkan ini. Penggunaan tanah liat yang dibakar untuk bata dan penggunaan aspal sebagai lepa (Kejadian 11:3) telah diceritakan sejak waktu sebelumnya. Mungkin aspal itu diapungkan di Sungai Efrat dari Het.
'Menara Babel', istilah yang tidak terdapat dalam PL, biasa-nya menunjuk kepada menara (migdol) yang dibangun menjadi tanda tertinggi yang berhubungan dengan kota itu dan pemuja-pemujanya. Pada umumnya dianggap, bahwa sama seperti kota itu, menara tersebut juga belum selesai dibangun (ayat 8), dan bahwa itulah menara kuil bertingkat atau ziggurat dengan banyak tingkatan. Bentuk ini dikembangkan di Babel pada ± 3000 sM mulai dari temenos atau panggung yg menyangga suatu kuil yg dekat dengan kuil-kuil kota (seperti di Erekh dan 'Ukair). Setelah singgungan naskah Sharkalisharri ziggurat di Babel, yang dikemukakan kemudian adalah yang berhubungan dengan pemugarannya oleh Esarhadon thn 681-665 sM. Hal ini disebut Etemenanki dalam bahasa Sumer (pembangunan dasar panggung langit dan bumi) dan dihubungkan dengan kuil Marduk Esagila, 'bangunan yang puncaknya adalah langit'.

Sangat mungkin bahwa bangunan yang dianggap keramat itu meniru suatu bangunan yg lebih tua. Menara ini mengalami kerusakan besar dalam perang tahun 652-648 sM, tapi diperbaiki lagi oleh Nebukadnezar II (605-562 sM). Bangunan inilah yang sebagian ditemukan oleh Koldewey pada tahun 1899. Herodotus, sewaktu perkunjungannya ± 460 sM, menceritakan tentang bangunan ini, yang juga dibicarakannya dalam suatu papan (tablet) dengan tulisan Mesir kuno dari tahun 229 sM (Louvre, AO 6555). Dengan demikian dimungkinkanlah membuat gambar menara berikutnya.

Lantai dasar menara itu berukuran 90 X 90 m dan tingginya 30 m. Di atas lantai dasar itu dibangun lima lantai, tiap lantai tingginya 6-18 m. Makin ke atas makin kecil ukuran lantai-lantai itu. Sebagai mahkota dari bangunan itu, pada tingkat yang paling atas adalah bangunan kuil. yang dalam anggapan zaman itu menjadi tempat kehadiran sang dewa bila berurusan dengan manusia. Sarana penghubung adalah tangga atau jalan landai. Bagan paling akhir dari suatu ziggurat bertingkat tujuh menunjukkan bahwa tingginya adalah sama dengan lebar dasarnya, dengan suatu kuil berbentuk kubus terletak di puncaknya. Ziggurat-ziggurat yang serupa terdapat di Asyur, Ur, Calah, Erekh dan di Niniwe.

Ziggurat Babel dirusak oleh Xerxes pada thn 472 sM.
Aleksander membersihkan puing-puingnya dengan maksud membangunnya kembali, tapi urung karena ia meninggal. Patok-patok batasnya kemudian dibuang oleh penduduk setempat, dan kini tempat dari apa yang disebut Etemenanki itu adalah suatu lubang (Es-Sahn) yang dalamnya sarna dengan tinggi bangunan asli.

Para pelancong pada segala abad selalu berusaha menemukan tempat menara Babel yang telah menjadi puing itu. Ada yang menyamakannya dengan Es-Sahn tadi, yang lain menyamakannya dengan sisa-sisa yang telah menjadi seperti kasa, yakni sisa-sisa dari ziggurat yang masih ada di Borsippa (mod Birs Nimrud), 11 km di sebelah tenggara Babel, kemungkinan dari zaman Neo-Babilonia.

Dugaan lain berkata bahwa tempat menara seperti yang disinggung dalam Alkitab, adalah di Dur-Kurigalzu (Aqar Quf), di sebelah barat Bagdad. Tapi kota ini dibangun kr 1400 sM. Yang dapat dikatakan dengan pasti adalah, bahwa cerita Kitab Kejadian tentang menara adalah bersifat sejarah yg dapat dipercaya mengenai bangunan-bangunan yang tidak bisa ditemui lagi.

Beberapa ahli menghubungkan penglihatan Yakub tentang tangga dan 'pintu gerbang ke sorga' (Kejadian 28:11-18) dengan suatu ziggurar scperti pernah dibangun di Babel.

Menurut Kejadian 11:9 campur tangan Allah dalam pembangunan Babel mengakibatkan kekacauan bahasa-bahasa dan kemudian penyebaran manusia, mungkin pada zaman Peleg (Kejadian 10:25).

Babel telah menjadi lambang kecongkakan manusia dan kejatuhannya yang tidak dapat dihindari.




Rekonstruksi menara (Ziggurat) dibangun oleh raja Ur, Urnammu, lk 2100 sM.
Peron-peronnya diwarnai hitam, merah, biru, yang tertinggi dilapisi perak,


KEPUSTAKAAN:
A Parrot, The Tower of Babel. 1955;
D.J Wiseman. AS 22. 1972, hlm 141 dst.

Selasa, 14 Juni 2011

Bupati Serahkan LKPJ Kepada Dewan PDF Print E-mail Written by Thamrin/Papos Tuesday, 31 August 2010 00:00

SERUI [PAPOS]- Usai bupati kepulauan Yapen membacakan pidatonya pada pembukaan rapat paripurna III DPRD tahun 2010 dalam rangka penyampaian LKPJ 2009 dan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD 2008, bupati, Drs. Decky Nenepat menyerahkan materi rapat paripurna III kepada dewan yang diterima Ketua DPRD, Yotam Ayomi didampingi Waket I, Denis Imanuel Wanggai, dan Waket II, Hermanus Woriori, pagi kemarin diruang sidang DPRD Yapen di jalan Irian.
LKPJ tahun anggaran 2009 merupakan laporan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah selama 1 tahun anggaran untuk disampaikan kepada DPRD. Dimaksudkan sebagai salah satu media dalam upaya memelihara dan menguatkan hubungan cheks dan balances antara kepala daerah dengan DPRD.
Disamping itu, LKPJ merupakan salah satu bahan bagi DPRD untuk melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan daeran kabupaten kepulauan Yapen tahun 2009, dan sekaligus diharapkan menjadi bahan dan masukan dan pertimbangan baik dalam penyusunan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) dan pelaksnaan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) lima tahun berikutnya.
Demikian pidato bupati kabupaten kepulauan Yapen, pada rapat paripurna III DPRD Yapen pagi kemarin di ruang sidang dewan jalan Irian. “Dinamika masyarakat sebagai perwujudan demokrasi, menyadarkan kita semua untuk bekerja lebih selektif dalam menyusun kebijakan, programdan kegiatan pembangunan yang menyentuh kepentingan masyarakat secara keseluruhan,” kata Nenepat, seraya menambahkan hal ini merupakan kerja kolekfit bagi eksekutif dan legislatif serta masyarakat sebagai pemberi mandat kepada pemerintah daerah untuk menjalankan apa yang menjadi harapan dan aspirasi yang berkembang.
Dalam harapan masyarakat seperti ini, kata Nenepat, mengharuskan pihaknya lebih selektif dalam menentukan skala prioritas pengalokasian dana pembangunan dengan menitik beratkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan serta melibatkan partisipasi masyarakat. Dengan demikian masyarakat sebagai pelaku utama dalam kegiatan pembangunan dapat menikmati hasil-hasil yang dicapai dan dirasakan manfaatnya sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup,
pendatapan dan kesejahteraan masyarakat.
LKPJ tahun anggaran merupakan bentuk pertanggung jawaban tahunan kepala daerah kepada masyarakat melalui DPRD dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai pelaksnaan APBD tahun anggaran 2009 dan sekaligus sebagai bahan kajian untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan. [rin]

Pertemuan BEM Nusantara Diwarnai Aksi Protes


PDF Print E-mail
Written by Ant/Agi/Papos   
Thursday, 25 November 2010 00:00
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Jayapura [PAPOS] - Puluhan Mahasiswa peserta pertemuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) nusantara di Auditorium Universitas Cenderawasih, Jayapura, Rabu pagi, diwarnai aksi protes sejumlah peserta kepada panitia penyelenggara.

Puluhan peserta temu BEM nusantara enggan memasuki gedung auditorium tempat pertemuan dengan alasan tidak jelas jadwal yang diberikan panitia. Sebagian peserta lainnya mengeluhkan tempat tinggal yang terkesan beda "kelas".
"Kami hanya ditempatkan di badan diklat, sementara peserta lainnya tinggal di hotel. Kita semua adalah sama mahasiswa, kenapa harus dibedakan dalam penempatan penginapannya," kata seorang mahasiswa asal Biak Numfor.
Pertengkaran antara panitia dan peserta itu sempat membuat suasana memanas, saat ketua panitia pertemuan BEM nusantara, Thomas Waridjo yang sedang berdialog dengan peserta yang protes, tiba-tiba beberapa orang mahasiswa yang juga termasuk dalam kepanitiaan, di antaranya Benyamin Gurik, keluar dan langsung bersuara keras kepada peserta yang protes.
"Siapa yang protes. Kami panitia sudah bekerja keras. Kalian tinggal protes terus," tegas Benyamin Gurik.
Akibat pertengkaran ini, saat Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVII Cenderawasih, Brigjen TNI Erfy Trianussu datang dan memberikan materi di pertemuan BEM nusantara itu, para peserta yang melakukan protes, tetap tidak memasuki ruangan dan hanya duduk berkumpul di depan Auditorium Uncen.
Sebelumnya, pertemuan BEM nusantara yang dijadwalkan akan berlangsung selama tiga hari itu, dibuka secara langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (22/11).
Presiden SBY saat membuka kegiatan itu sempat membicarakan tentang Pendidikan yang harus berlaku untuk semua, strategi bidang pendidikan sebagai pusat keilmuan , serta sasaran yang yang harus dicapai.
"Jadikan pertemuan BEM nusantara ini sebagai `sharing` untuk saling berbagi dan lainnya. Saudara-saudaralah yang nanti akan memimpin bangsa, maka sangat bagus kalau sering bertemu, karena kita semua bangsa Indonesia yang punya kesempatan yang sama jadi pemimpin," kata Presiden.
Pertemuan BEM nusantara ini diikuti sekitar 600 mahasiswa dari 300 Perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. [ant/agi]

Asmat Sebagai Situs Warisan Dunia

PDF Print E-mail
Written by Kiky/Papos   
Thursday, 16 December 2010 00:00
ASMAT [PAPOS]- Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. populasi suku asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku Simai. Sekarang biasanya di satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang lebih. Setiap kampung punya satu rumah bujang (jeu) dan banyak rumah keluarga. Rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri.
Suku asmat meiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh.selain budaya, penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku Asmat umumnya. Ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku Asmat.
“Ada patung yang memang mempunyai kekuatan gaib sendiri, bagi kita yang melihatnya dengan mata telanjang memang tidak kelihatan. Tetapi orang Asmat bisa merasakan adanya roh gaib didalam patung.yang lebih unik lagi, masing-masing distrik yang ada di kabupaten ini mempunyai cara mengukir yang berbeda. Seperti di sawaerma yang hanya bisa membuat panel, distrik Akat yang hanya bisa membuat patung dan lain sebagainya,”ungkap Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Asmat Simon Junumpits, S.Pd.
Sementara itu pola hidup yang dipakai oleh orang Asmat adalah pola meramu. Dimana masyarakat mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti, ular, kasuari, babi hutan dll. mereka juga selalu meramuh atau menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. Kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah. Beruntung nelayan di Asmat mempunyai keleluarsaan untuk mencari ikan tanpa takut tersaingi oleh pendatang yang mempunya alat yang modern.
Bupati Asmat Yuvensius A Biakai, BA sendiri memberikan peraturan daerah dimana yang berhak mencari ikan di laut hanyalah orang Asmat saja. Sedangkan bagi pendatang, dipersilahkan untuk perdagang yang lainnya.[kiky]